Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa Gitgit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa Gitgit. Tampilkan semua postingan

Air Terjun Gitgit, the Secret Waterfall

Air terjun tertinggi di Bali, yang tingginya mencapai 35m ini sering juga disebut “secret waterfall”. Alasannya, tempatnya cukup terpencil, meskipun tidak sulit dicari.

Air terjun Gitgit ini terletak di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, 11 km sebelum Singaraja, lewat jalan Raya ke Singaraja. Seperti air terjun pada umumnya, untuk mencapai air terjun Gitgit pun kita harus berjalan kaki melalui jalan yang berkelok, naik dan turun, namun jalannya berbatu dan termasuk bagus karena dikelola dengan baik. Warga setempat pun menjadi guide lokal yang siap mengantar para pengunjung. Seperti jalan di sekitar air terjun pada umumnya, jalan menuju air terjun Gitgit juga agak licin, jadi berhati-hatilah saat berjalan.

Ini foto-foto Air Terjun yang indah menawan







Di sekitar air terjun Gitgit, terdapat perkebunan, maka tidak heran jika di jalan menuju air terjun terdapat penjual rempah khas pegunungan seperti vanilla dan kopi, ada juga kain batik bali. Sempatkanlah untuk menengok ke toko oleh-oleh karena barang yang dijual berbeda dari tempat lain.

Udara di sekitar air terjun sejuk, dan terkadang turun kabut. Pemandangan di air terjun Gitgit sangat menyejukkan mata, disarankan untuk menghabiskan waktu sekitar setangah hari sampai sehari di objek wisata ini, karena ada beberapa air terjun, yang bisa didatangi, tidak hanya untuk dilihat dan berfoto, Anda juga bisa mandi dan berenang di bawah air terjun. Meski udara terasa sangat dingin, tak ada salah menceburkan diri dan mandi di bawah air terjun yang biru. Rasanya? Luar biasa! Objek wisata ini sudah tertata rapi walaupun masih sedikit sekali pengunjungnya, mungkin karena letaknya yang agak jauh dari kota Denpasar

Sejarah Objek Wisata Air Terjun Gitgit

     
Pada zaman penjajahan Belanda yang bermarkas di Persanggrahan Gitgit, Objek Wisata Air Terjun Gitgit dulu dikenal sebutan "Ceburan Tuan" (Sebagai tempat pemandian Tuan-tuan Belanda) yang kemudian dikembangkan dengan baik tahun 1939 oleh seorang Pegawai Belanda yang bernama : "Dr.Chooykas" yang pada saat itu bertugas sebagai Kepala Liefring Van der Tuuk yang kini dikenal dengan Gedong Kertya.
        Air Terjun Gitgit merupakan objek wisata alam yang intak, unik, alami, magis, mempunyai pemandangan sangat naturalistik dan menawan serta lestari sebagai suatu wisata alam. Udaranya sangat sejuk dan menyegarkan angin cendrung berhembus lamban dan semilir, sehingga menamba kesegaran.
        Air Terjun Gitgit mempunyai ketinggian ± 65 meter, sumber  air pada objek wisata ini berasal dari berbagai mata air sepanjang  aliran sungai dan hulu sungai, mata air yang keluar disepanjang tebing relatif bersifat konstan disebabkan karena daerah wisata air terjun disangga oleh hutan, resepan Danau Buyan  dan Tamblingan kwalitas air sangat jernih, alami dan bebas polusi limbah.

        Topografi daerah aliran sungai sangat curam bertebing tinngi sampai 100 meter dengan kemiringan 40 - 69 deraja, jenis tanah vulkanik berbatu dan bersifat labil, sedangkan dasar sungai terdiri dari batuan yang baku dan kuat.
        Jaln menuju ke objek wisata Air terjun Gitgit ini merupakan jalan setapak yang melintasi tanah persawahan dan perkebunan milik penduduk, yang ditempuh dengan pejalan kaki selama 15 menit, kondisi jalan naik turun.
        Potensi alam sangat sejalan dengan konsep wisata alam. Kondisi fisik dan fisis lingkungan dapat memberikan keindahan , keunikan secara aktif baik fisik, sosial budaya, religius, dan kesejahteraan. Dengan memanfaatkan keunikan dan keindahaan alam akan dapat memberikan kenikmatan dan kesenangan wisatawan.
        Pemberdayaan sumber daya alam hendaknya memperhatikan keberlanjutan sehingga diperlukan suatu kebijakan dalam pemanfaat alam dan lingkungan sehingga akan dapat bertutur secara berkesinambungan dan sistematis menjaga kelestarian, keindahan dan keunikan objek wisata Air Tejun Gitgit.

Letak Geografis desa Gitgit

Sumber : Kutipan Buku "Mengenal Wisata Alam Air Terjun Gitgit" Oleh I Ketut Ritama"

Sejarah Desa Gitgit

 SELAYANG PANDANG DESA GITGIT
KECAMATAN SUKASADA,KABUPATEN BULELENG
Alamat : Jalan Jurusan Singaraja – Bedugul, Telp (0362) 26238
SEJARAH DESA GITGIT   
        Pada jaman Pemerintahan Belanda tahun 1939 yang bermarkas di Pesanggrahan Desa Gitgit, yang sekarang dikenal dengan Restoran “Boga Sari “ oleh salah satu pegawai Belanda yang bernama Dr. C. HOOYKAS yang pada saat itu bertugas sebagai Kepala Liefring Van Der Tuuk yang kini dikenal dengan nama “ Gedong Kertya “ menyebutkan bahwa Desa Gitgit adalah daerah yang kondisi Tofografinya sangat curam, berbukit – bukit, bertebing tinggi, jenis tanah vulkanik berbatu yang bersifat labil, batu padas yang tajam menggigit; Potensi alam kondisi fisik dan fisis lingkungan dapat memberikan keindahan, keunikan secara aktif baik fisik, sosial, budaya, religius yang dapat memberikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya sebagai tempat yang sejuk ini maka raja Buleleng memerintahkan Ki Patih Gempol bersama panjaknya untuk menggali dan mengalirkan air yang ada dengan membuat saluran ( Telabah ).
Ditengah keputus asaan para panjaknya membuat saluran air itu Ki Patih Gempol tidak henti – hentinya memberikan semangat , hingga suatu saat beliau berkata “ Gitgit Kang Sinungkal Dong Antar Ri Wekas . Batu Padas ( Gitgit ) batu bergerigi tajam kalau digali lama – lama airnya pasti akan mengalir ( tersalur ) dan tidak terlalu lama ternyata ucapan itu benar, hingga dari mata air mengalir melalui sela sela batu yang akhirnya untuk mengairi sawah.
Akhirnya dari Sejarah dan proses penggarapan Gitgit ( batu bergerigi tajam ) inilah maka desa ini sampai sekarang disebut Desa Gitgit
Sekarang Desa Gitgit ini terkenal sampai ke Manca Negara karena Air Terjunnya yang indah dan menawan buat dikunjungi di akhir pekan atau hari libur. Di desa Gitgit ini banyak sekali tanaman pala : seperti cengkeh, coklat, kopi dan lain lain. Sekedar anda tahu saja desa gitgit ini adalah penghasil cengkeh yang terbanyak setelah desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan.

Luas wilayah Desa : 12 Km2
Pemanfaatan wilayah :
Perkebunan         : 67 ha.
Pertanian             : 407,48 ha.
Lain lain               : 106,5 ha.
Tegal                   : 617,52 ha
Kuburan               : 1,5 ha.

Letak dan batas batas Desa :
Utara                          : Wilayah Desa Padang bulia.
Timur                          : Wilayah Desa Pegayaman.
Selatan                      : Wilayah Desa Wanagiri.
Barat                          : Wilayah Desa Ambengan.

Jarak Pemerintahan Desa Ke :
Kecamatan      : 8 Km.
Kabupaten       : 10 Km.
Provinsi           : 67 Km.

Jumlah Dusun dan nama nama Dusun :
Dusun/ Br Dinas Pumahan.
Dusun/ Br Dinas Gitgit
Dusun / Br Dinas Pererenan bunut.
Dusun / Br Dinas Wirabhuwana.

Jumlah Penduduk:
Laki laki : 1489 Jiwa.
Perempuan : 1478 Jiwa.

Mata Pencaharian Penduduk :
Bertani.
Berdagang
Wiraswasta.

Organisasi :
Subak                : Gitgit.
Subak                : Abian Tri Karya.
Subak                : Keladian.
Subak                : Abian Sila kerti.
Teruna Teruni   : Satya Mandala Giri Desa Gitgit.
                            STT Dharma Satya Pumahan

Potensi desa yang di kembangkan seperti :
Pertanian          : Padi, Palawija.
Peternakan       : Ayam Pedaging, Sapi, Kambing.
Pariwisata         :
                             Air Terjun Gitgit.
                             Air Terjun Campuhan,
                             Air Terjun Bertingkat.
Kerajinan Tangan : Produksi sarana persembahyangan ( kerajinan dulang ).

Sarana Pendidikan antara lain :
TK Kumarastana Desa Gitgit.
SDN 1,2,3,4 Gitgit.
Sarana Kesehatan :
Pos Yandu : 4 buah.
Puskesmas : 1 buah.

Berikut ini foto-foto Air Terjunnya serta pohon cengkeh dan kopinya:






    Ini hasil kopi dan cengkeh:


 Cengkeh yang masih muda cukup buat dipetik
Cengkeh yang sudah dijemur beberapa hari
 

untuk lebih tahu khasiat cengkeh untuk berbagai penyakit klik link ini dan  cengkeh syzygium-aromaticum obat bius.

Diambil dari websiter resmi : klik >clickhere<